Selasa, 16 Desember 2008

Nasionalisme

Pengaruh Nasionalisme Dalam Diri Soekarno

Oleh : Tulus Chandra Putra Simanungkalit


1.2.3 Pengaruh Nasionalisme

Nasionalisme pada tahun 1836 dalam bahasa Inggris awalnya bersifat
teologis, sebagai doktrin bahwa bangsa-bangsa tertentu dipilih secara
ilahiah selanjutnya cenderung disamakan dengan egoisme nasional.
Penggunaan kata nasionalisme paling awal merujuk pada filsuf Jerman ,
Johan Gottfried Herder dan biarawan kontra-revolusioner Perancis,
Uskup Augustin de Baruel pada akhir abad kedelapan belas.
Nasionalisme memiliki makna yang diantaranya :

1) Suatu proses pembentukan, atau pertumbuhan bangsa-bangsa.

2) Suatu sentimen atau kesadaran memiliki bangsa yang bersangkutan.

3) Suatu bahasa dan simbolisme bangsa.


4) Suatu gerakan sosial dan politik demi bangsa bersangkutan.


5) Suatu doktrin dan /atau idologi bangsa, baik yang umum maupun
yang khusus.

Menurut Ernest Renan, bangsa adalah satu jiwa yang bersolider, memiliki kehendak untuk bersatu sebagai pengikatnya. Otto Bauer menyatakan bangsa adalah satu persamaan, suatu persatuan karakter, watak yang timbul, lahir dan terjadi karena persamaan pengalaman.

Nasionalisme Indonesia menurut Soekarno tidak sama dengan nasionalisme
Eropah, dimana nasionalisme Indonesia dan Asia pada umumnya lahir dari
protes dan kritik terhadap praktek imperialisme, kolonialisme dan
kapitalisme negara-negara Eropah atau produk antitesa yang dilahirkan
oleh imperialisme, kolonialisme, kapitalisme di Indonesia dan di Asia.

Nasionalisme yang tumbuh dan berkembang di Eropah merupakan produk
dari pematangan kapitalisme industri yang secara pesat berkembang di
negara-negara industri maju yang pada ahkirnya nasionalisme yang
seperti ini melahirkan ambisi untuk meng-ekspansi negara-negara lain.

Soekarno menilai Bangsa merupakan hubungan historis-sosio-politik yang
artinya bahwa wilayah atau tanah air memiliki hubungan yang tidak
terpisahkan dengan warga negaranya, baik secara geo politik, secara
karakter manusianya, maupun secara senasib sepenanggungan, termasuk
sosio kultural, sosio ekonomi dan sosio politik.

Soekarno memformulasi perjuangan kaum nasionalis dengan apa yang
dikatakannya :

" Nasionalisme kita adalah nasionalisme yang membuat kita menjadi ` perkakasnya Tuhan … Kita, kaum pergerakan nasional Indonesia, kita bukan sahaja merasa menjadi abdi atau hamba darupada tanah tumpah darah kita, akan tetapi kita juga merasa menjadi abdi dan hamba Asia, abdi dan hamba semua kaum yang sengsara, abdi dan hamba dunia…… "

Soekarno sebagai seorang nasionalis memandang bahwa untuk mengusir
imperialisme-kapitalisme dari Indonesia hanya dapat dilaksanakan
dengan perjuangan kebangsaan dan bukan perjuangan kelas. Soekarno
berpandangan Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme harus bersatu untuk
melawan imperialisme-kapitalisme.
Ide Soekarno tersebut didasarkan atas pandangan :

1. Berdasarkan ajaran Renan, Kautsky, Otto Bauer tentang nasionalisme dengan melihat cara-cara perjuangan para pemimpin India seperti Gandhi, Maulana Mohammad Ali, Sjaukat Ali, Gopala Krishna Gokhale, C.R DAS, Prof. Vaswani, Sun Yat Sen maka Nasionalisme harus dapat bersatu dengan Islam dan Marxisme.

2. Berdasarkan ajaran-ajaran Moh. Abduh, Seyid djamaludin El
Afgani, Arabi Pasha, Mustafa Kamil, Moh. Farid Bey, Aly Pasha, Moh. Ali dan Sjaukat Ali ditambah dengan larangan Qur'an mengenai riba dan anjuran sosialisme dan demokrasi maka Islam di Indonesia harus dapat bersatu dengan Nasionalisme dan Marxisme.

3. Berdasarkan ajaran-ajaran Marx, Engels, Ferdinand Lassale,
Blanque, Sismondi, Thompson disertai dengan realitas bahwa Nasionalisme dan Islam adalah aliran politik dan aliran agama yang tertindas, maka Marxisme di Indonesia harus dapat bersatu dengan Nasionalisme dan Islam.

Soekarno memang mencita-citakan akan persatuan dan kesatuan serta
kerukunan antara golongan Nasionalis, Islam dan Marxis. Ketiga
kekuatan ini dianggap Soekarno sebagai kekuatan hebat yang dapat
dijadikan senjata perlawanan terhadap kapitalisme dan imperialisme.

Soekarno juga tak segan-segan mengecam kaum nasionalis yang
dianggapnya terlalu mengagung-agungkan kemajuan barat. Menurutnya
nasionalisme Indonesia bukanlah nasionalisme ke-Barat-an, melainkan
merupakan nasionalisme ke-Timur-an. Nasionalisme dalam diri Soekarno
bertumbuh dikarenakan situasi Indonesia di masa penjajahan.

Dalam tulisannya tentang Nasionalisme, Islam, dan Marxisme, suatu
aliran yang paling jelas tentang pokok-pokok pikiran Soekarno, bahwa
gerakan-gerakan Islam, Marxis dan Nasionalis di Indonesia berasal dari
satu dasar yang sama, yaitu hasrat kebangsaan untuk melawan
kapitalisme dan imperialisme. Soekarno jelas sekali menghimbau ketiga
kekuatan ideologi politik itu harus bersatu dalam menghadapi musuh
bersama.

Oleh karena itulah Soekarno berusaha melibatkan keseluruhan
golongan politik revolusioner Indonesia dalam satu Front Nasional yang
menjadi kekuatan yang ditakuti oleh imperialisme dan kapitalisme
asing. Hal ini dapat dilihat dengan dimasukannya NU, PNI dan PKI
kedalam Front Nasakom yang dicetuskan Soekarno sebagai reperesentasi
kekuatan politik Indonesia.

Berdasarkan pandangan kebangsaan yang sangat melekat dalam diri
Soekarno ia sendiri menyatakan ketidaksepakatannya terhadap perjuangan
kelas. Hal ini diungkapkannya dalam Fikiran Ra'jat pada tahun 1932
melalui perkataanya :
" Dan apakah prinsip kita itu berarti, bahwa kita ini harus mementingkan perjuangan kelas? Juga sama sekali tidak. Kita nasionalis, mementingkan perjuangan nasional, perjuangan kebangsaan. "
Dalam perenungan Soekarno ternyata gagasan Karl Marx dengan
mengobarkan semangat perlawanan kaum buruh di Eropah tidak
memungkinkan dipraktekan di Hindia Belanda. Kondisi di Eropah dengan
perindustrian yang pesat tidak sama dengan situasi dan kondisi di
Indonesia, terlebih lagi watak imperialisme yang dibawa oleh Kolonial
Belanda ternyata berpengaruh dalam membangun karakter perlawanan
rakyat Indonesia.

Menurut Soekarno, pola perlawanan dengan model perjuangan kelas
ala Karl Marx tidak sesuai dengan model perjuangan rakyat Indonesia
karena kultur di dua negeri yang berbeda sama sekali. Eropah adalah
negeri dengan industri maju pesat dan mayoritas kelas yang
ter-eksploitasi oleh kapitalisme adalah kaum buruh sementara di
Indonesia mayoritas adalah petani, nelayan, buruh tani, buruh
perkebunan, kuli serta kaum melarat lainnya.

Persatuan adalah suatu alat dan cara untuk menyempurnakan
perjuangan rakyat jelata menuju perubahan dan perbaikan nasib dalam
masyarakat yang sesuai dengan kemajuan jaman. Persatuan menyangkut
soal strategi dan taktik.

Berdasarkan realitas ini maka dibutuhkan simbol pemersatu dari
sekian banyak profesi yang mengalami penindasan dan penghisapan
sehingga terbentuk suatu wadah bersama dalam melakukan perlawanan
untuk membebaskan rakyat dari belenggu penindasan oleh kapitalisme.
Dengan demikian sudah jelas Soekarno tetap berupaya menghimpun
semua potensi nasional. Menurut Bernhard Dahm dalam bukunya Soekarno
dan Perjuangan Kemerdekaan menyimpulkan bahwa sangat jelas Soekarno
sebetulnya sangat berkeinginan untuk menghidari perjuangan kelas itu
sama sekali.

Soekarno juga tak segan-segan menyerang kaum nasionalis yang
dianggapnya terlalu berangan-angan akan kemajuan bangsa lain dan ingin
meniru kemajuan bangsa lain itu di Indonesia. Dalam perkataannya
Soekarno mengungkapkan :
" Jempol sekali jikalau negeri kita bisa seperti negeri jepang atau
negeri Amerika atau negeri Inggris! Armadanya ditakuti dunia, kotanya
haibat-haibat, bank-banknya meliputi dunia, benderanya kelihatan
dimana-mana…..! kaum nasionalis yang demikian itu lupa bahwa
barang-barang yang hebat itu adalah hasil kapitalisme, dan kaum
marhaen di negeri ini adalah tertindas…. Mereka hanyalah ingin
Indonesia merdeka saja sebagai maksud yang penghabisan.

Trilogi perjuangan yang diformulasikan Soekarno dalam rangka menyuburkan paham nasionalisme dalam hati sanubari rakyat Indonesia diterapkannya dengan cara :

1. Menunjukan kepada rakyat Indonesia bahwa mereka memiliki hari dulu yang indah.

2. Menambah keinsyafan rakyat Indonesia bahwa mereka memiliki hari atau masa kini yang suram dan gelap.

3. Memperlihatkan kepada rakyat Indonesia sinarnya hari yang kan datang yang berseri-seri, dan terangnya cuaca serta bagaimana caranya mendatangkan masa depan yang penuh dengan janji-janji.

Dengan adanya Trilogi yang diciptakan Soekarno tersebut maka dalam tataran praksisnya ia menyusun pergerakan rakyat melalui beberapa cara :

1. Membangkitkan kesadaran rakyat bahwa keadaan hidup rakyat tidak adil.

2. Membangkitkan kemauan rakyat supaya mau memperbaiki nasib yang tidak adi itu menjadi adil.

3. Melatih rakyat supaya merasa mampu mengadakan perjuangan memperbaiki nasib tersebut.

Kisah kepahlawanan para pejuang yang berkorban demi tanah air
tampak sangat bergejolak dalam diri Soekarno melalui penuturannya
kepada Cindy Adams,

" Berapa banyak saudara-saudara kita yang meringkuk dalam pembuangan ? Aku tidak pernah berpikir menjawabnya. Aku tahu jumlahnya diluar kepala. Lebih dari dua ribu orang dibuang ke Tanah Merah… Dan pada waktu pembawa-pembawa obor kemerdekaan ini diusir masuk kedalam hutan lebat, mereka pergi dengan tersenyum… Di Tanah Tinggi bertaburanlah kuburan mereka, dari yang 300 orang itu hanya 64 orang yang masih hidup. Pengorbanan seperti itu telah pula terjadi di Pulau Muting dan Pulau Banda. Tapi ingatlah tidak ada pengorbanan yang sia-sia. Ingatkah engkau tentang keempat yang digantung di Ciamis ?. salah seorang dari mereka berhasil menyusupkan surat kepadaku di malam sebelum menjalani hukumannya. " Bung Karno besok saya akan menjalani hukuman gantung. Saya meninggalkan dunia yang fana ini dengan hati gembira, menuju tiang gantungan dengan keyakinan dan kekuatan batin, oleh karena saya tahu bahwa Bung Karno akan melanjutkan peperangan ini yang juga merupakan peperangan kami. Teruslah berjuang, Bung Karno, putarkan jalannya sejarah untuk semua kami yang sudah mendahului sebelum perjuangan itu selesai. "


Pengorbanan para pejuang, penderitaan rakyat akibat hisapan
imperialisme itulah yang oleh Soekarno dirumuskan sebagai Amanat
Penderitaan Rakyat, yaitu suara hati nurani yang tidak terucap ke
permukaan, akan tetapi terdengar bila telinga kita dilekapkan ke tanah.
Indonesia tidak mungkin dapat membangun kekuatan nasional tanpa
dilandasi semangat nasionalisme, karena semangat nasionalisme
merupakan ruhnya kekuatan nasional.

Hal ini diterapkan Soekarno untuk meyakinkan rakyat bahwa yang
menyebabkan penderitaan rakyat Indonesia serta menjadikan rakyat
Indonesia menjadi terbelakang adalah akibat dari imperialisme. Bagi
Soekarno rakyat Indonesia perlu diyakinkan bahwa ketika imperialisme
dan penjajahan sudah dilenyapkan dari tanah air maka kejayaan di masa
lampau yang pernah ditorehkan bangsa Indonesia dapat diraih kembali.

* DIAMBIL DARI SKRIPSI S1 ILMU POLITIK FISIP USU MEDAN
* KOMISARIS GMNI FISIP USU MEDAN 2004-2005

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar