Selasa, 16 Desember 2008

ISLAMISME DALAM DIRI SOEKARNO



Islamisme Dalam Diri Soekarno

Oleh : Tulus Chandra Putra Simanungkalit


1.2.2 Pengaruh Islamisme

Pengaruh ajaran Islam bagi Soekarno tampak jelas dikarenakan Soekarno sangat meyakini firman Allah yang tertulis dalam Al-Qur’an yang berbunyi :

“ Sesungguhnya Tuhan tidak merubah keadaan sesuatu kaum, sebelum
mereka merubah keadaan mereka sendiri. “

Soekarno selain menyerap berbagai pemikiran dari berbagai pakar dunia, ia juga menghayati kitab-kitab suci. Setelah ditelaah ternyata pemahaman Soekarno terhadap Indonesia adalah pemahaman yang benar dan diatas pemahaman itulah dibangun teori dan metode merubah nasib bangsa Indonesia.

Latar belakang pemikiran Soekarno juga sangat dipengaruhi oleh tradisi Islam yakni Islam yang sebagaimana dipahami dan dihayati oleh masyarakat Jawa. Untuk mewujudkan Indonesia yang merdeka Soekarno melihat bahwa akar teologi Islam yaitu tauhid menjadi pijakan yang kuat untuk membangun etos kejuangan tersebut.

Pemahaman Soekarno tentang Islam bukanlah dalam kerangka studi Islamakan tetapi menjadikan Islam sebagai roh yang menjadi semangat bagio aktivitas perjuangan politik. Dan gagasan Soekarno menemukan keberhasilan dengan munculnya perlawanan terhadap kolonial Belanda yang dipelopori oleh sebahagian besar umat Islam dalam wadah Sarekat Dagang Islam (SDI) tahun 1905 dan berubah menjadi Sarekat Islam pada tahun 1911.

Soekarno juga pernah terlibat dialog dengan ulama NU seperti Rais Akbar Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari dimana dalam Muktamar NU tahun 1953 ditetapkan bahwa negara Indonesia yang menjadi cita-cita NU adalah negara Darussalam (negeri yang damai dan sejahtera) bukan Darul Islam (negara Islam). Pemikiran strategis ini sangat menarik perhatian Soekarno.
Cokroaminoto yang menjadi guru politik Soekarno pada tahun 1924 membuat sebuah risalah berjudul “ Islam dan Sosialisme “ yang intinya berisi :

1. Bahwa Islam dengan ajaran anti riba (riba adalah rente tambah meerwarde) pada hakikatnya adalah anti kapitalisme.

2. Bahwa perintah-perintah Tuhan untuk kedermawanan (zakat-fitrah, dsb), kebajikan dan bermusyawarah (w’amruhum sjuro bainahum) kepada dan dengan sesama manusia adalah suruhan Tuhan untuk sosialisme dan demokrasi.

3. Bahwa berdasarkan penyelidikan-penyelidikan sejarah oleh Cokroaminoto dan karangan sarjana Islam maupun karya para Orientalis berisikan masyarakat sosialis yang sesuai dengan ajaran-ajaran Islam bahkan pada masa Sajidina Oemar menerapkan susunan pemerintahan dan masyarakatnya adalah komunistis-militeristis dalam batas-batas ajaran Islam.


4. Bahwa Cokroaminoto berdasarkan analisa marxistis menarik kesimpulan kemelaratan rakyat Indonesia disebabkan oleh kolonialisme dan kapitalisme, dimana Sarekat Islam berkeyakinan memiliki kebersamaan tujuan dengan pergerakan rakyat dan kaum buruh di dunia. Dalam artian Cokroaminoto melihat adanya hubungan kerjasama antara gerakan buruh sosial-internasional dengan Pan Islamisme.

Pan Islamisme adalah gerakan perjuangan nasional, perjuangan merebut kemerdekaan nasional, perjuangan yang ditujukan untuk melawan kapitalisme dan imperialisme. Pan Islamisme adalah persatuan semua orang muslim terhadap penindasnya.

Secara tegas Kyai Tubagus Hadikoesoemo menyatakan bahwa “ Orang islam yang tidak mendukung persatuan dalam menghadapi kaum imperialis, maka sesungguhnya ia sesat. “

Gerakan Sarekat Islam di Jawa adalah perkumpulan yang besar dan beranggotakan petani miskin, bersifat spontanitas dan revolusioner. Sarekat Islam juga terlibat dalam aksi pemogokan bersama kaum buruh dengan mendengung-dengungkan jargon bahwa kekuasaan berada di tangan petani miskin, kekuasaan berada di tangan proletar. Sarekat Islam juga menerapkan cara dan strategi yang sama dengan kaum komunis. Sarekat Islam memiliki perjuangan yang sama dengan komunisme yaitu melawan imperialisme-kapitalisme untuk kemerdekaan bangsa.

Beberapa faktor yang mendasari radikalisasi massa dan organisasi dalam tubuh SI diakibatkan oleh faktor kemiskinan masyarakat yang begitu akut sebagai konsekuensi kolonialisasi.
Terutama semakin terasa setelah Pemerintah Hindia Belanda merubah sistem penjajahan dari VOC menjadi sistem liberal.

Kedua janji Gubernur Jenderal Van Limburg Stirum pada tahun 1917 untuk membentuk Dewan Rakyat (Volksraad) dan hal ini mengecewakan para tokoh pergerakan mengingat yang mereka inginkan adalah sebuah dewan legislatif yang sesungguhnya dan tidak hanya bersifat sebagai penasehat kekuasaan.

Ketiga, mengenai adanya pembentukan milisi bumiputera yang oleh Sneevliet dan Cipto Mangunkusumo menuduh hal tersebut sebagai upaya menjadikan milisi bumiputera sebagai umpan peluru dan perisai, sebatas untuk mempertahankan kepentingan Belanda.

Faktor keempat yakni selain faktor nasional juga disebabkan faktor lokal seperti wabah pes yang menyerang Semarang akibatnya buruknya perumahan dan lingkungan tempat rakyat kecil tingga. Kondisi ini diperparah oleh buruknya gizi masyarakat yang kurang makan, dikarenakan pemerintah Hindia Belanda tidak memperhatikan masalah pemeliharaan kesehatan.

H.M. Misbach memandang bahwa Islam dan Komunisme adalah dua kekuatan yang dapat dipersatukan untuk melawan kapitalisme,keduanya tidak saling bertentangan, bahkan saling melengkapi satu sama lain dimana persamaan dari keduanya adalah dimensi kemanusiaan.
Oleh karena itu menurut Misbach barangsiapa yang menegakkan agama merupakan sebuah kewajiban untuk terlibat dalam pergerakan melawan sistem kapitalisme, karena sistem itu membuat manusia tertindas dengan ketamakan dan penghambaannya terhadap materi sehingga menjauhkan manusia dari agama.

Bahkan dalam pandangan Misbach bahwa Islam yang sejati adalah Islam yang mengakui komunisme, karena kedua ideologi tersebut memiliki tujuan yang sama, yaitu pembebasan manusia dari ketertindasan. Dan sebaliknya komunisme juga harus mengakui Islam sebagai sesuatu nilai yang memiliki kebenaran yang hakiki.

* DIAMBIL DARI SKRIPSI S1 ILMU POLITIK FISIP USU-MEDAN
* KOMISARIS GMNI FISIP USU-MEDAN
PERIODE 2004-2005

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar