Rabu, 17 Desember 2008

INDONESIA DI MASA KOLONIALISME DAN IMPERIALISME

INDONESIA DI MASA KOLONIALISME DAN IMPERIALISME

Oleh : Tulus Chandra Putra Simanungkalit

1.1 Indonesia di masa Kolonialisme dan Imperialisme Belanda

Kolonialisme- kolonialisme Eropah menghasilkan ketimpangan ekonomi demi kelestarian pertumbuhan kapitalisme dan industri Eropah. Kolonialisme adalah bidan yang membantu kelahiran kapitalisme Eoropah, tanpa ekspansi kolonial maka transisi menuju kapitalisme tidak akan terjadi di Eropah.

Selama tiga setengah abad lamanya Indonesia dikuasai oleh kekuatan kapitalisme dan imperialisme Belanda yang telah meng-eksploitasi kekayaan alam Indonesia, dan juga Indonesia tercatat telah dikuasai oleh kapitalisme dan imperialisme internasional ditandai dengan dikeluarkan kebijakan Belanda, yakni ` opendeur-politiek ` atau politik pintu terbuka mulai pada tahun 1830.

Imperialisme mengusai Indonesia dengan berbagai cara :

1. Dominasi politik.
2. Eksploitasi ekonomi.

3. Penetrasi kebudayaan.

Akibat ketiga praktek yang dijalankan oleh imperialisme terhadap masyarakat Indonesia selama ratusan tahun telah mendatangkan kerugian yang cukup besar seperti rakyat Indonesia kehilangan kedaulatan di bidang politik, kehilangan prinsip berdikari di bidang ekonomi, dan kehilangan kepribadian di bidang kebudayaan.

Menurut Soekarno kapitalisme dan imperialisme memiliki sifat dan corak yang berbeda. Imperialisme adalah anak kandung dari kapitalisme, dan kapitalisme ditentukan oleh situasi objektif masing-masing kapitalisme yang ada diantaranya :

1. Kapitalisme Amerika Serikat melahirkan imperialisme liberal.

2. Kapitalisme Inggris melahirkan imperialisme semi liberal.

3. Kapitalisme Belanda melahirkan imperialisme semi orthodok.

4. Kapitalisme Spanyol melahirkan imperialisme orthodok.


Beberapa sifat dari imperialisme yang pernah diterapkan di negara-negara miskin atau negara berkembang yang dapat dilihat diantaranya Handels Imperialism Inggris di India dan Finanz Imperialism Belanda di Indonesia.

1.1.1 Handels Imperialism Inggris Di India

Sifat dan corak kapitalisme/ imperialisme dipengaruhi secara dominan oleh situasi-objektif masing-masing kapitalisme menyangkut basis bahan baku (grondstoffen) , kaya atau miskinnya grondstoffen yang terdiri dari minyak, batu arang, logam mulia, metal, dan lain-lain. Kapitalisme yang kaya basis grondstoffen akan lebih royal dibandingkan dengan kapitalisme yang kurang kaya atau bahkan miskin akan basis grondstoffen.

Sifat khas imperialisme liberal biasanya lebih royal dan akan lebih `lapang dada' daripada imperialisme semi liberal. Sifat imperialisme Inggris disebut Handels Imperialism yang dilatarbelakangi oleh kelebihan barang-barang produksi (over product) dari perindustrian yang berkembang pesat di Inggris sehingga timbul keinginan untuk mencari wilayah baru sebagai pasar produksi. Inggris mendistribusikan barang-barang produksi yang modern seperti
mesin jahit, gunting, pisau, barang-barang tekstil ke India.

Imperialisme Inggris adalah imperialisme dagang, imperialisme dagang untuk menjual barang-barang buatan Inggris di India. Untuk menciptakan kemampuan daya beli rakyat India maka Imperialisme Inggris tidak terlalu memiskinkan rakyat India. Imperialisme Inggris masih memelihara kemauan beli dan kekuatan beli, sebab jika rakyat India dikondisikan terlalu miskin maka barang-barang buatan Inggris sama sekali tidak dapat dibeli oleh rakyat India.

Untuk meningkatkan daya beli rakyat India maka imperialisme Inggris mengadakan program pendidikan dengan mendirikan sekolah-sekolah tinggi di India. Hal ini dinilai sebagai white burden/mission sacre (tugas suci dari kapitalisme ) untuk mengembangkan peradaban bangsa-bangsa lain.

Hal ini jika ditinjau dari segi politik, ekonomi, dan kebudayaan sebenarnya adalah penjajahan Inggris terhadap India. Konsekuensi dari imperialisme Inggris di India melahirkan perlawanan dari rakyat India dengan melancarkan gerakan swadeshi, yaitu upaya mengimbangi impor Inggris dengan tidak membeli barang-barang buatan Inggris, memproduksi barang-barang buatan dalam negeri, bahkan mendirikan pabrik-pabrik sendiri di India.

Gandhi secara tegas menuduh barang-barang industri Inggris adalah devilworks atau kerja setan. Dalam konteks India maka yang menjadi soko guru revolusi India adalah kaum borjuasi India seperti Tata dan Birla yang secara total mendukung konsepsi swadeshi yang dicetuskan oleh Gandhi.

1.1.2 Finanz Imperialism Belanda Di Indonesia

Imperialisme Belanda pada saat menjajah Indonesia disebut finaanz imperialisme dalam artian Indonesia menjadi daerah kolonial Belanda diakibatkan oleh melimpahnya uang rakyat Belanda yang disimpan di Bank (over capital) , sehingga uang yang tersimpan dalam jumlah yang sangat besar harus dimanfaatkan dengan menjadikan Indonesia sebagai wilayah operasi jajahan. Indonesia memang sejak lama telah dikenal sebagai daerah subur penghasil rempah-rempah.

Imperialis Belanda menginvestasikan modal mereka di Indonesia dalam bentuk usaha pertambangan dan perkebunan yang cocok dengan Indonesia sebagai sumber kekayaan alam, negara agraris dan pusat tenaga kerja atau buruh yang murah. Tindakan-tindakan yang dilakukan oleh imperialis Belanda dalam memuluskan strategi imperialismenya :

1. Belanda melancarkan praktek devide et impera (politik adu domba) atau pecah belah terhadap sesama kaum feodal (tuan tanah) Indonesia dengan tujuan memperoleh tanah yang murah untuk dijadikan perkebunan dan pertambangan atas jasa Belanda membantu biaya perang kepada kaum feodal yang berhasil diadu domba oleh Belanda.

2. Melaksanakan upaya penghancuran terhadap pedagang kelas menengah Indonesia dengan cara mempersaingkan pedagang menegah Indonesia dengan pengusaha asing Asia lainnya yang sengaja didatangkan ke Indonesia oleh Belanda dan mendapatkan fasilitas serta prioritas yang tidak diperoleh pedagang menengah Indonesia. Akibatnya pedagang menengah Indonesia kesulitan dalam kegiatan ekonomi.

3. Memperendah taraf hidup rakyat Indonesia dengan cara memperlemah kemauan dan kemampuan atau daya beli masyarakat Indonesia.

Dengan melancarkan ketiga strategi diatas belanda memperoleh beberapa keuntungan diantaranya :

a) Sewa/harga tanah yang murah.
b) Tenaga manusia (buruh yang murah).


Akibat yang ditimbulkan dari finaanz imperialisme Belanda telah menghancurkan struktur sosial masyarakat Indonesia dan berada pada di tingkatan paling bawah sama sekali. Fondasi dasar ini telah menjadi sumber masyarakat kelas bawah yang memiliki penderitaan dan nasib yang sama akibat penghisapan antara bangsa yang satu dan bangsa yang lainnya.

Di masa hidup Soekarno ia telah melihat dan memahami banyak penderitaan yang dialami oleh masyarakat Indonesia selama menjajah Indonesia. Pemahaman Soekarno terhadap nasib masyarakat Indonesia secara totalitas ia gunakan untuk menyusun azas dan teori perjuangan, menyusun konsep dan program kerja terutama menetapkan arah dan tujuan perjuangan, menetapkan siapa kawan dan lawan, dan bagaimana agar perjuangan itu dapat terwujud.

Modal asing semakin deras masuk ke Hindia Belanda yang bukannya memberi kebaikan tetapi justru semakin memperburuk kondisi kehidupan masyarakat. Para pemilik modal selain dapat memiliki tanah, juga bisa menyewa dari pemerintah atau penduduk setempat. Sawah-sawah desa yang bersifat komunal mulai banyak disewakan para kepala desa dengan mendapat premi tertentu, sementara penduduk Hindia Belanda menjadi kuli secara massal. Petani telah menjadi budak di lahannya sendiri.

Inspirasi Soekarno untuk merumuskan suatu ideologi pembebasan bagi rakyat tertindas yang disebutnya Marhaen menemukan suatu petunjuk tatkala ia sedang mengadakan perjalanan ke desa Cigalereng, Bandung Selatan dimana pada waktu itu Soekarno telah menjadi pemimpin Partai Nasional Indonesia (PNI). Dalam perjalanannya Soekarno bertemu dan berkomunikasi dengan seorang petani miskin Indonesia yang bernama Pak Marhaen.

Soekarno : Bung, ini tanah, tanah siapa ?
Petani : Gaduh abdi (saya punya)
Soekarno : Pacul ini siapa punya ?
Petani : Gaduh abdi (saya punya)
Soekarno : Gubuk ini siapa punya ?
Petani : Gaduh abdi (saya punya)
Soekarno : Engkau kalau sudah tanam padi, hasil padi ini untuk
siapa ?
Petani : Buat abdi
Soekarno : Wah engkau kaya ?
Petani : Tidak, miskin. Maklum cuma begini dan
meskipun tanah punya sendiri, pacul punya sendiri tapi saya miskin..
paling miskin, coba lihat gubuk itu saja sudah reot
Soekarno : Nama bung siapa ?
Petani : Marhaen.

Soekarno menemukan ilham untuk menamakan golongan masyarakat Indonesia yang miskin baik proletar (buruh), petani, pegawai, guru, pedagang dan masyarakat kelas bawah lainnya. Selanjutnya Soekarno pun mencetuskan ideologi marhaenisme sebagai asas Partai Nasional Indonesia pada tahun 1927. Marhaenisme oleh Soekarno dianggap sebagai ideologi bagi rakyat marhaen untuk melenyapkan kapitalisme dan imperialisme di Indonesia.

Bagi Soekarno kapitalisme adalah sistem pergaulan hidup yang timbul dari cara produksi yang memisahkan kaum buruh dari alat-alat produksi. Kapitalisme timbul dari cara produksi yang oleh karenanya menjadi penyebab nilai lebih tidak jatuh ke tangan kaum buruh melainkan hanya dinikmati oleh sang majikan.

Dengan demikian kapitalisme menyebabkan akumulasi kapital, konsentrasi kapital, sentralisasi kapital, dan kapitalisme bertujuan memelaratkan kaum buruh.

Imperialisme sendiri menurut Soekarno adalah suatu nafsu, atau sistem yang menguasai atau mempengaruhi ekonomi bangsa lain, suatu sistem yang mengendalikan ekonomi atau negeri bangsa lain. Imperialisme juga sebuah sistem atau nafsu yang bertujuan untuk menaklukan negeri atau bangsa lain. Imperialisme pada akhirnya akan melahirkan negeri jajahan.

Berdasarkan praktek imperialisme Belanda yang berlangsung selama berabad-abad maka Soekarno menciptakan sebuah formulasi ide yang kemudian dirumuskan menjadi ideologi perjuangan bagi massa marhaen yang telah dimiskinkan oleh sistem imperialisme, kolonialisme, dan kapitalisme.

Bagi Soekarno marhaenisme adalah azas perjuangan yang bertujuan untuk menghilangkan imperialisme, kolonialisme dan kapitalisme di Indonesia, menciptakan susunan masyarakat serta negara yang menyejahterakan kaum marhaen, sekaligus juga sebagai cara perjuangan yang revolusioner sesuai dengan watak kaum marhaen sendiri.

* DIAMBIL DARI SKRIPSI S1 ILMU POLITIK FISIP USU
* Komisaris GMNI FISIP USU-MEDAN 2004-2005

Tidak ada komentar:

Posting Komentar